Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel. Tampilkan semua postingan

28.2.09

The Pillars of The Earth


THE PILLARS OF THE EARTH
KEN FOLLETT
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan Pertama 2006, 1131 halaman
Pustaka SemburatJingga 05120835000

Novel berlatar belakang sejarah Inggris abad kedua-belas yang kacau balau saat Maud dan Stephen memperebutkan takhta raja inggris setelah kematian Raja Henry Pertama.

Di tengah perang saudara ini, juga dalam bencana kelaparan dan perseteruan di kalangan gereja sendiri, Philip sang biarawan muda berjuang membangun katedral.

Perjuangan Philip makin berat karena ternyata kalangan gereja bukan hanya berseteru dengan sesamanya, tapi ikut campur juga dalam politik kerajaan.

Begitu banyak tantangan yang dihadapinya, sehingga Philip akhirnya ragu: apakah ia harus menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan agama untuk membangun katedralnya ? ANDRETHERIQA 030209

Rara Mendut


RARA MENDUT
Y.B. MANGUNWIJAYA
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2008 – 802 halaman
Pustaka SemburatJingga 14070895000

Pertama kali saya membaca sastra Y.B. Mangunwijaya pada tahun 1984, lewat novelnya Burung Burung Manyar. Jujur, saya kesangsem dengan tulisannya yang renyah itu. Makanya, ketika kuliah di Yogyakarta, saya berusaha untuk ‘berkenalan’ dengan beliau. Jadilah saya kerap hadir dalam berbagai kegiatan dan diskusi beliau yang ketika itu juga menjadi kesempatanku untuk kenal dengan Emha Ainun Najib, Amien Rais, Umar Kayam dan Romo Dick Hartoko.

Romo Mangun, begitu beliau diakrabi, adalah pengemban misi injili yang lebih memilih ‘praktek lapangan’ ketimbang berkotbah dan memimpin perayaan ekaristi. Praktek lapangan beliau yang paling mengesankan adalah membangunkan perkampungan bagi kaum girli (pinggir kali) di bantaran Kali Code yang membelah Ngayogyakarta Hadiningrat.

Romo Mangun lahir di Ambarawa pada 6 Mei 1929. Menamatkan Pendidikan Filsafat dan Teologi di Seminarium Maius Sancti Pauli Yogyakarta (1959) dan Sekolah Tinggi Teknik Westfaelen di Aachen, Jerman (1966). Anggota Aspen Institute for Humanistic Studies di Aspen, Colorado, USA (1978). Beliau meninggal pada tahun 1999.

>>>^<<<

Novel Rara Mendut ini adalah trilogi yang dijilid dalam satu buku. Terdiri atas Rara Mendut (hal 1 – 279), Genduk Duku (280 – 501) dan Lusi Lindri (502 – 799). Pernah diangkat ke layar lebar pada tahun 1983 dengan pemeran Meriam Bellina.


Rara Mendut, budak rampasan yang menolak diperistri oleh Tumenggung Wiraguna demi cintanya kepada Pranacitra. Dibesarkan di kampung nelayan pantai utara Jawa, ia tumbuh menjadi gadis yang trengginas dan tidak pernah ragu menyuarakan isi pikirannya. Sosoknya dianggap nyebal tatanan di lingkungan istana di mana perempuan diharuskan bersikap serba halus dan serba patuh. Tetapi ia tidak gentar. Baginya, lebih baik menyambut ajal di ujung keris Sang Tumenggung daripada dipaksa melayani nafsu sang panglima tua.


Genduk Duku, sahabat Rara Mendut yang membantunya menerobos benteng Istana Mataram dan melarikan diri dari kejaran Tumenggung Wiraguna. Setelah kematian Rara Mendut dan Pranacitra, Genduk Duku menjadi saksi perseteruan diam-diam antara Wiraguna dan Pangeran Aria Mataram, putra mahkota yang kelak bergelar Sunan Amangkurat I dan sesungguhnya juga jatuh hati kepada Rara Mendut – perempuan rampasan yang oleh ayahnya dihadiahkan kepada panglimanya yang berjasa.


Lusi Lindri, anak Genduk Duku dipilih menjadi anggota pasukan pengawal Sunan Amangkurat I oleh Ibu Suri. Lusi Lindri menjalani kehidupan penuh warna di balik dinding-dinding istana yang menyimpan ribuan rahasia dan intrik-intrik jahat. Sebagai istri perwira mata-mata Mataram, ia tahu banyak – bahkan terlalu banyak. Semakin lama nuraninya semakin terusik melihat kezaliman junjungannya. Tiada pilihan lain. Bulat sudah tekadnya, baginya lebih baik mati sebagai pemberontak penentang kezaliman daripada hidup nyaman bergelimang kemewahan.


Kisah ini memang berlatar sejarah dan diangkat dari Babad Tanah Jawi, namun sajiannya disuguhkan secara populer dan disana sini tersisip kenakalan dan kejenakaan khas Rama Mangun.
ANDRETHERIQA 030209

27.2.09

Let Me Call You Sweetheart


LET ME CALL YOU SWEETHEART
MARY HIGGINS CLARK
c 1995 – Gramedia III, Mei 2003 – 449 halaman
Pustaka SemburatJingga 24020915000

Mary Hinggins Clark layak untuk dijuluki The Queen of Suspence, karena plot novel-novelnya memang selalu penuh kejutan. Plot ini menempatkan tokoh-tokoh utamanya – biasanya wanita-wanita biasa, wanita-wanita yang menyenangkan – berada dalam situasi yang luar biasa mengerikan. Yang unik, semua judul novelnya adalah judul lagu-lagu lama.

Beberapa tahun silam, ketika Clark baru menyelesaikan 7 novel, dan ada yang menjulukinya Agatha Christie era 80-an, Clark menanggapi, “Christie telah menulis 100 buku, jadi aku masih utang 93 lagi.” Buku Let Me Call You Sweetheart ini adalah bukunya yang ke-11 yang diluncurkannya ke pasaran.

Wanita yang pernah bekerja sebagai sekretaris dan pramugari ini mulai menulis pada usia 36 tahun, ketika suaminya meninggal dan dia terpaksa harus menghidupi sendiri kelima anak mereka yang masih kecil-kecil. Kini, di Amerika saja, novel-novelnya telah terjual lebih dari 25 juta eksemplar.

Clark yang keturunan Irlandia lahir dan dibesarkan di New York City. Kini ia bermukim di Saddle River, New Jersey.

“JANGAN TABURKAN DI ATAS TANAH INI MAWAR-MAWAR KESAYANGANNYA; MENGAPA TAKUTI DIA DENGAN SEIKAT MAWAR, YANG INDAHNYA TAK DAPAT DILIHATNYA? YANG WANGINYA TAK DAPAT DICIUMNYA?
EDNA ST. VINCENT MILLAY
“EPITAPH”


Kerry McGrath, jaksa penuntut umum yang pandai dan tegas, sedang dicalonkan menjadi hakim – jabatan yang sudah lama diinginkannya. Selain kesempatan berkariernya di dunia hukum lebih luas, Bob Kinellen – mantan suaminya – akan terpaksa mengakui kemampuannya.

Tiba-tiba rencana Kerry berantakan. Ketika menemani putrinya berobat ke Dr. Charles Smith, dokter spesialis bedah plastik ternama, Kerry bertemu dengan beberapa wanita yang berwajah sama. Wajah cantik menggoda yang mengingatkan nya kepada seseorang di masa lalu… Suzanne Reardon, korban pembunuhan sepuluh tahun yang lalu! Skip, suami Suzanne, mendekam di penjara karena diputuskan bersalah.

Ketika kasus itu – Sweetheart Murder Case – disidangkan, Kerry baru memulai kariernya di kantor kejaksaan. Kerry sangat kagum kepada kepiawaian atasannya, Frank Green, yang telah berhasil dalam kasus itu dan menjadi terkenal.

Mengapa wanita-wanita itu diberi wajah yang sama dengan orang yang sudah mati? Kerry bertekad membuka kembali kasus itu, walaupun tidak mendapat dukungan dari orang-orang yang terlibat – Frank Green, Bob Kenellen, Senator Jonathan Hoover, ayah angkat Kerry, dan terutama Dr. Smith. Bahkan salah seorang di antara mereka berniat menghentikannya. Kerry tetap bersikeras, dibantu oleh Geoff Dorso, pengacara yang telah melumerkan kebekuan hatinya. Ia tidak menyadari bahwa maut sedang mengintainya. ANDRETHERIQA 260209

18.2.09

Dracula


DRACULA
by: Bram Stoker
Peacock Books Publisher 2002
366 pages

Pustaka SemburatJingga 27090360000

Bram (Abraham) Stoker (1847-1912) was born near Dublin, the third of seven children. An unidentifield illness kept him almost bedridden until the age of seven. It remains a mystery as to whether the ailment was of physical or psychological origin. In his adole-scence, although Stoker remained shy and bookish, he was anything but sickly. Probably to make up for his earlier frailty, he was by this time developing into a fine athlete. At Trinity College, he was named University Athlete for his skill in soccer and the marathon walking event. He graduated with honours in Mathematics and looked forward to the task of making a living.

Young Stoker had always dreamed of becoming a writer, but his father had safer plans for him. Yielding to his father’s wishes, he followed him into a career of civil servant in Dublin Castle. During a ten-year period as civil servant he made acquaintance of the celebrated actor-manager Sir Henry Irving. In 1878 he left this occupation to become his touring manager and secretary and remained in this post for twenty seven years. He came to know all the major theatrical men and women of the age.

His first publication, The Duties of Clerks of Petty sessions in Ireland (1879) was followed by fifteen works of fiction, among them Dracula (1897). Stoker also wrote the two-volume Personal Reminiscences of Henry Iriving (1906).

Dracula, published in 1897, is the most famous of all tales of vampirism. Presented in diaries, letters and news items, this story of the bloodsucking vampire who preys on the living and can be repelled by garlic, crucifix and a wooden stake is both terrible and powerful.

Dracula – tall and thin, with his beaky nose, pointed ears, cruel and sensual features, and ‘peculiarly sharp white teeth’ protruding over his lips – has been the subject of many films, imitations and parodies. He sleeps in a lordly tomb in the vaults beneath his desolate castle. He has been dead for centuries, yet he may never die.
Long ago, Jonathan Harker had escaped the evil of Count Dracula and vowed to forget the horror he had witnessed. Now he must confront it once more if he is to stop the evil creature from claiming another victim – Jonathan’s beloved wife, Mina. Determined to save her, Harker joins a band of brave souls willing to face death in order to destroy Count Dracula – before it’s too late… ANDRE THERIQA 150209

15.2.09

Utage No Ato



AFTER THE BANQUET
(UTAGE NO ATO)
Yukio Mishima

Tuttle Publishing Singapore 1967
Twelfth Printing 2001 – 271 pages

Pustaka SemburatJingga 27090325000

Yukio Mishima, born in Tokyo on January 14, 1925, was probably the most spectacularly talented young Japanese writer to emerge after World War II. Mishima’s first novel was published in 1948, shortly after he graduated from Japan’s prestigious University of Tokyo School of Jurisprudence.

Upon leaving the university, he secured a highly coveted position in the Ministry of Finance, but he resigned after just nine months to devote himself fully to his writing. From the time he put pen to paper until his widely publicized death in 1970, he was a very prolific writer, producing some two dozen novels, more than 40 plays, over 90 short stories, several poetry and travel volumes, and hundreds of essays. His mastery won him many top literary awards, among them the 1954 Shinchosha Literary Prize for his novel The Sound of Waves.

Although critics are naturally divided on which of his many works is the ultimate masterpieces, Mishima himself regarded The Sea of Fertility to be his finest effort. He completed his last volume, , on the day of his death by ritual suicide on November 25, 1970. Mishima’s writings have been compared to those of Proust, Gide, and Sartre, and his obsession with courage mirrors Ernest Hemingway’s.

Today, more than three decades since his death, Yukio Mishima remains one of the pivotal figures of modern Japanese literature.

>>>^<<<
Kazu is successful and independent woman who is determined never to fall in love again. That is until Noguchi, a former government cabinet minister, walks into her life. Attracted despite herself by his aristocratic background and intellectual airs, they marry – even as the wide social and moral gulf between them seems certain to lead them to disaster. Determined for her own selfish reasons to resurrect his political career, she secretly funds his idealistic political campaign. When he finds this out, his high and unyielding moral sensibilities are offended. Kazu is forced to choose between his very narrow code of conduct and the independence and way of life she has come to cherish. The outcome reveals Mishima’s full range of power as a master storyteller and novelist.

When it was first published in 1960, After the Banquet was regarded as being very controversial because of the light Mishima cast on Japanese political, social and sexual life. As well as exploring the erotic and psychological issues Mishima has made his own, these book gives us keen insights into Mishima’s political and social beliefs and hopes for Japan. ANDRETHERIQA 150209